Hidup Minimalis Ala Orang Jepang. Uwow!!

Yolo Booksight #4

Lanjutan kegiatan Yolo Booksight, menceritakan insight yang saya dapatkan setelah membaca buku. Uwuw..

Kegiatan ini baik adanya diinisiasi sama Idola kita semua akak Lona dengan #BacaBikinHebat.

Nah bagi kalian yang baca terus ingin gabung boleh banget langsung aja KLIK SAYA!

Tanpa perlu berlama-lama ini dia insightnya.

Hidup Minimalis Ala Orang Jepang (2015)

Fumio Sasaki

Setelah saya membaca buku tentang The Essentialism saya tertarik dengan konsep minimalis. Pernah dengan istilah Konmari atau berbenah ala Marie Kondo. Nah dalam buku ini Fumio Sasaki juga sempat menyinggung soal berbenah. Sepertinya dalam bayangan saya orang Jepang ini adalah orang-orang yang sangat menyukai berbenah dan menyukai yang namanya kesederhanaan.

Buku ini sangat ringan tidak terlalu tebal bisa diselesaikan mungkin dalam 1 minggu hanya saja tiap bab penjelesan buku ini sangat praktek-able jadi yang bikin agak lama menyelesaikan buku ini karena disambi praktek penerapan juga. heheh 😁

Jadi apa saja yang saya dapat dari Buku Hidup Minimalis Ala Orang Jepang?

1. Saya tertarik untuk menjadi seorang Minimalis

Penjelasan yang sederhana dan mudah sekali masuk kedalam otak saya tentang metode minimalis ini membuat saya menjadi tertarik untuk menjadi minimalis.

Dalam cerita pengalaman Fumio Sasaki, Saya yakin 80% orang-orang pernah merasakan enggan untuk langsung mencuci piring kotor setelah dipakai. Atau enggan langsung mencuci baju setelah digunakan. Atau mungkin enggan untuk membereskan barang yang dimiliki. Saya bisa seyakin itu karena sayapun juga mengalaminya.

Perasaan enggan merawat barang yang kita miliki atau segera membersihkan piring atau baju kotor yang sudah digunakan, bukan hanya karena rasa malas yang menghampiri tetapi juga karena ada nya sebuah pemikiran “Ah, aku kan masih ada piring bersih lainnya” atau “Baju di lemari masih banyak santai lah” Yang terjadi malah semakin banyak yang menumpuk semakin besar pula rasa malas yang timbul.

Coba kita bayangkan kalo kita hanya memiliki satu piring, mau tidak mau setelah menggunakan pasti akan langsung kita cuci. Begitu juga berlaku pada pakaian yang kita punya. Dengan konsep sederhana seperti mengurangi barang-barang tersebut selain membuat tempat semakin lapang dan bersih kita juga hanya dikelilingi oleh barang-barang yang penting bagi kita saja. Poin penting mengapa saya sangat tertarik untuk menjadi minimalis karena saya ingin menjadi orang yang rajin.

2. Perasaan tidak membanding-bandingkan

Setelah membaca separuh dari Bab 3, saya memutuskan untuk mulai kembali berbenah dan membuang barang. Yap! saya menggabungkan 2 metode ini karena di buku “Hidup Minimalis Ala Orang Jepang” juga menyinggung tentang konmari dimana saya menyampaikan perasaan terima kasih pada barang-barang yang sudah bersaja pada saya.

Tidak hanya berterima kasih saat mensortir barang. Saya juga banyak mengucapkan kata maaf pada barang-barang yang belum pernah saya gunakan bahkan ada yang sampai expired contoh kosmetik, pelembut pakaian (saya tidak pernah gunakan karena selama ini saya selalu laundry di tempat laundry. 😢), permen, pakaian yang pernah hanya saya gunakan sekali dalam setahun dan peralatan makan.

Saya heran kenapa saya bisa memiliki banyak sekali barang padahal saya tinggal sendiri. Sejenak ketika mensortir barang-barang tersebut saya berfikir bahwa dulu saya sering kali membandingkan diri saya dengan orang lain.

Source: https://www.pexels.com/@andre-mouton

Contohnya ketika ada seorang wanita cantik yang menggunakan pakaian lucu menggunakan riasan sederhana namun masih terlihat segar. Sayapun berfikiran kenapa saya tidak berdandan seperti dia? Sayapun pasti juga akan terlihat lebih lucu dan cantik daripada dia. Wah dia punya peralatan kosmetik brand ‘A’ Saya harusnya juga bisa membeli dan menggunakan produk tersebut.

Alhasil, saya banyak membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Memiliki perasaan sering membanding-bandingkan juga jadi monster dalam kehidupan saya. Perasaan tidak puas dengan diri sendiri, kurang bersyukur jadi beban pikiran dan jadi gampang stress.

Dalam 1 bulan selama membaca dan menerapkan yang ada dalam buku ini ajaibnya saya merasakan saya menjadi semakin baik-baik saja serta lebih mensyukuri apa yang saya miliki. Malahan saya merasakan ikut senang dengan apa yang dicapai dan diperoleh orang lain.

WAH! masak dalam satu bulan langsung kayak gitu BOONG! Mungkin agak sedikit lebay cerita saya. Sejujurnya menerapkan metode ini membuat saya semakin dekat dengan makna kehidupan saya yang pernah saya ceritakan di postingan bulan lalu “Mendesain Esensi Kehidupan Sesuai Keinginan”

3. Lebih Menikmati Momen dan Bersosialisasi

Saya merasakan ketika hanya memiliki hal-hal yang saat ini penting dalam kehidupan saya (barang). Metode ini juga berdampak pada kehidupan dan hubungan saya dengan orang lain. Saya merasakan bahwa apa yang saat ini ada di hadapan saya dan yang saat ini saya miliki itulah yang terpenting.

Jadi ketika saya bersama orang lain saya mempusatkan seluruh perhatian saya kepada orang tersebut kepada momen yang saat itu dirasakan. Saya mau untuk terus menjaga perasaan ini karena saya menjadi lebih bahagia ketika dapat sepenuhnya bisa memperhatikan orang yang ada dihadapan saya.

Dengan melakukan hal ini. saya merasa kemampuan saya dalam bersosialisasi sedikit meningkat serta lebih menikmati momen yang tengah berlangsung. Tentunya akan terus saya tingkatkan. Hehehe 😉


Perbedaan masa lalu, sekarang dan masa depan tak lebih dari ilusi yang keras kepala.

Albert Einstein

Saya senang sekali menceritakan tentang buku ini. Mungkin akan saya lanjutkan pembahasan yang terpisah soal proses saya menjadi minimalis. Sampai Jumpa… 💚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *